Pahami Konsumen Anda

“Consumer is an active agent” kalimat ini sering kali dimunculkan dalam kuliah antropologi yang sudah kita lewati selama ini. Kalimat tersebut memberikan pemahaman kita terhadap perilaku konsumen antara lain: sebagai konsumen berhak memilih apa yang dikehendaki, konsumen bisa memutuskan produk apa yang akan dibeli dan produk apa yang dapat memuaskan kebutuhannya. Konsumen tidak dapat dipaksa untuk menentukan pilhannya. Konsumen bukan seorang yang pasif dan bisa dikendalikan oleh perusahaan. Ia aktif dan bebas memilih dan menentukan pilihannya.
Untuk itu tujuan perusahaan adalah membuat konsumen puas kemudian loyal dan kembali membeli produk yang diciptakannya. Tujuan ini tentu tidak mudah. Produk harus diciptakan mengadopsi konsumen. Orientasi perusahaan terhadap pasar pun ikut  berubah, dari konsep produksi, konsep produk, konsep penjualan, hingga kini sudah menjadi konsep pemasaran merupakan bagian dari perusahan yang sudah menemukan pemahaman bahwa  konsumen adalah agen yang aktif. Bagan organisasi juga mengalami perubahan yang dulu menempatkan manajemen berada pada posisi puncak kini menjadi bagan organisasi modern yang menempatkan pelanggan pada puncak piramida yang terbalik. Ini juga merupakan konsekuensi dari dari kalimat tersebut.
Disisi lain, Perusahaan harus mampu menemukan titik potong antara supply dan demand. Tidak mudah perusahan menemukan titik potong tersebut karena bagi perusahaan titik potong tersebut tidak hanya sekedar harga barang dan kuantitas yang harus terjual tetapi juga ada margin yang juga didapatkan. Begitu pula bagi pihak konsumen, titik potong tersebut harus mampu memenuhi kepuasan mereka. Konsumen yang tidak puas terhadap pengalaman menikmati produk akan mudah untuk beralih ke produk lain yang lebih menarik guna memenuhi kepuasannya. Sehingga produsen turut mempertimbangkan juga keinginan konsumen. Sama halnya dengan pernyataan diatas, pernyataan ini juga merupakan bagian dari agen yang aktif.
Banyak faktor yang mempengaruhi permintaan suatu produk. Berikut faktor utama yang mempengaruhi perilaku pembelian: faktor budaya, sosial, kepribadian, dan psikologis konsumen tersebut. Tentu saja antropologi mempelajari kajian manusia sebagai makhluk budaya yang dapat menjadi referensi bagi produsen untuk memberikan penawaran produknya agar sesuai dengan permintaan konsumen.
Sebagai contoh, seseorang akan menentukan akan kemana ia pergi guna membeli beberapa kebutuhan sehari-harinya. Sekarang sudah banyak toko kelontong, swalayan, toko waralaba, dan mall. Produsen sudah menciptakan berbagai macam atribut untuk memberikan penawaran agar menarik terhadap konsumen kemudian datang pada perusahaannya. Namun, konsumen tetap berhak memilih kemana ia akan pergi. Bisa saja suatu hari konsumen memilih datang ke toko kelontong yang tidak ada satu pun atribut yang menarik bahkan pencahayaan yang redup guna membeli perlengkapan mandi. Tetapi bisa juga seorang konsumen hanya untuk membeli satu sachet shampo mereka rela menyempatkan datang ke mall karena ingin menikmati suasana yang lebih mewah. Sebagai produsen tentu kita tidak bisa menyalahkan konsumen. Konsumen berhak memilih, konsumen berhak memutuskan. Untuk itu sebagai pemasar yang baik adalah bagaimana kita mempertahankan konsumen agar tetap datang kembali ke perusahaan kita agar kebutuhan dan kepuasannya dapat terpenuhi.
Diferensiasi adalah tindakan merancang satu set perbedaan yang berarti untuk membedakan penawaran perusahaan dari penawaran pesaing (Philip Kotler, 1997:251). Untuk itu diferensiasi merupakan faktor penting untuk memilih dan menentukan supply produk kita dan dari mana demand yang ingin dituju. Di dalam antropologi, etnografi menjadi teknik yang digunakan untuk menentukan produk apa yang harus ditawarkan dan dari siapa permintaan akan muncul. Data etnografi menjadi penting sebagai akibat dari “Consumer is an active agent”.

BIG Q paradigma:


Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (Al Qashas: 26)
Ayat ini menerangkan bahwa wanita juga akan memilih seorang yang memiliki kualitas, mereka tidak akan sembarangan untuk memnempatkan seseorang akan bekerja disuatu tempat. Kualitas disini memang bukan untuk suatu perusahaan atau suatu grup, melainkan kualitas suatu produk yaitu seorang insan.
Menurut arti ayat yang diterangkan diatas dapat saya tunjukkan bahwa ada 2 hal yang dapat saya terangkan mengenai kualitas:
1.      Orang yang kuat: Yaitu kuat di dalam menjalankan tugasnya. Kekuatan disini mencakup kekuatan ilmu dan kekuatan mental (iman). Seseorang dikatakan berkualitas jika memiliki ilmu yang mampu ditawarkan dan tentunya memiliki manfaat. Sebenarnya di ayat lain juga diterangkan mengenai seseorang yang memiliki ilmu dan iman akan ditinggikan derajatnya di hadapan Allah SWT. Dan saya rasa ini juga merupakan salah satu alasan mengapa seseorang akan ‘diambil’ yang sesuai ayat diatas. Yang kedua memiliki keuatan mental (iman), yaitu ilmu saja tidak cukup bagi seseorang dianggap kuat, karena ilmu bisa digunakan untuk kemaslahatan dunia atau bahkan untuk menghancurkan dunia jika tidak ada kekuatan mental (iman) didalamnya. Sehingga kekuatan mental (iman) inilah diperlukan untuk menunjukkan seseorang memilki kualitas.
2.      Dapat dipercaya: Orang yang bisa menjaga amanat dan terpercaya. Menjaga amanat memang suatu hal yang harus dilakukan jika seseorang ingin terjaga integritasnya. Kadang seseorang di awal memang dapat menjaga amanat, namun pada perkembangannya banyak godaan-godaan yang mengganggu pikiran sehingga akhirnya amanat yang sudah diberikan dilepaskan begitu saja. Tidak mudah memang menjaga amanat dan tanggung jawab yang diberikan hingga kita selesai melaksanakan tanggung jawab dan mampu menjaganya hingga akhir. Terpercaya, berarti berkaitan dengan mutu. Seseorang dikatakan terpercaya berarti memiliki komponen ilmu dan iman yang kuat dan sudah ada yang membuktikan hal itu. Bargaining power akan nampak berwibawa ketika dihadapan orang. Dan mampu membuktikan pada tingkahlakunya di kehidupan sehari-hari.
Berdasarka uraian di atas berikut yang dapat kami simpulkan bahwa:
Kualitas adalah investasi: Ditunjukkan bahwa seseorang memiliki kualitas bararti dia berinvestasi bagi dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki ilmu yang mampu ditawarkan kepada orang lain berarti dia telah berinvestasi pada dirinya sendiri agar kedepannya ada cashflow yang yang masuk, baik dalam materi maupun yang berbentuk immateri yang berupa pahala yang merupakan investasi untuk tujuan hidup kita didunia yaitu surga yang kekal abadi di dalamnya.
Hubungannya dua arah: Selain kita mampu menawarkan ilmu kita punyai, kita wajib terbuka dengan kritik atau saran yang ditunjukkan pada ‘dapat dipercaya’. Semua kritik dan saran yang menyerang diri kita, wajib kita terima karena semua itu untuk kemajuan pribadi. Tanpa adanya feedback kita tidak akan pernah tahu apakah kita sudah sesuai dengan halur yang memanmg kita tuju. Feedback tersebut dapat berupa tambahan ilmu dari semua orang baik ilmu dunia maupun akhirat. Atau teguran langsung dari Allah SWT.
Menekankan pada proses: Bukan hasil yang kita gunakan acuan untuk menjalani kehidupan ini. Karena ada yang Maha Adil di atas sana yang akan menentukan hasil yang kita peroleh. Meskipun sebenarnya sudah dapat kita prediksi tentang hasil yang akan kita peroleh melalui proses yang kita jalani, namun kita tetap wajib berdoa atas apa yang kita usahakan.
Tiga dimensi tersebut yang akan menjadikan diri kita berkualitas atau dapat dikatakan memilki BIG Q paradigma dan akan ‘diambil’ sesuai yang diterangkan pada ayat tersebut.

Operation Manager
Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shaad: 26)
Allah telah menciptakan manusia di muka bumi sebagai khalifah, berikut ayat yang saya pandang cukup untuk mewakili peran sebagai seorang manajer. Beberapa kata yang dapat saya simpulkan dari makna ayat diatas adalah sebagai berikut.

Peran manajer sebagai:
Problem Solving
Decision Maker
Strategist
Organizational Builder